maka ketika…

maka ketika kau datang dan ingin pergi….

datang dan pergi lagi…
kau rajut dan kau putuskan lagi…
kau jatuhkan dan ku tetap bertahan…
kau hempaskan dan aku tetap bertahan…
kau tusuk dan aku bertahan…

kau tersenyum dan semua luka berangsur pulih…
kemudian kau gores lagi sebuah alur kebencian
dalam alur pelangi berrona merah darah..
di ujung senja yang terlalu gelap sehingga oranye tertutup gelap…

kenapa aku tetap tersenyum…?
kenapa tetap tak mampu ku membara..
memberangus semua…
meluapkan angkara…
dan semua luka ini bicara, menggeram, meratap..
dalam nyeri memuncak sebuah gertir hitam…
karena dalam lengkung bibirmu terpancar sebuah mata air yang bahkan mampu mendinginkan neraka…

hingga neraka ini terdiam…
hanya menatap kosong dalam lingkar sangkar amarah terbendung kasih….

dusta dan curigamu menutup aura jingga yang terpancar di setiap simfoni gerakmu…

maka bintang gelap ini terdiam..
bukan karena ia tak mampu bicara..
bukan karena ia tak mampu berpijar..

namun semua pijar takkan mampu menutup kegelapan imajinasimu yang selalu membuatku hitam…

membuatmu terluka karena imajinasi yang kau ciptakan sendiri untuk membenarkan bahwa aku selalu salah dan kau selalu benar..
membuka luka yang pernah tergores di lembaran jiwaku… untuk kau gores lebih dalam…

aku hitam… maka biarlah engkau menjadi merah…

One Response to “maka ketika…”

  1. wilkersonrusso5587 Says:

    I have read the comments on The Versace Mansion and I’d like to add that the place is a must see. I stayed there from February 13-17, 2009. My room wa Click https://zhoutest.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: